Jakarta, angkaranews. Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono resmi dikukuhkan dan dilantik sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) masa bakti 2026–2030.
Pelantikan berlangsung di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada (5/9/2026).
Sugiono menggantikan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya memimpin PB IPSI dalam rentang waktu panjang. Kepemimpinan baru tersebut diharapkan menjadi kelanjutan dari pembinaan dan pengembangan pencak silat nasional, sekaligus memperkuat upaya membawa olahraga bela diri asli Indonesia itu ke panggung internasional.
Sugiono sebelumnya telah ditetapkan sebagai Ketua Umum PB IPSI periode 2026–2030 secara aklamasi dalam Musyawarah Nasional (Munas) XVI IPSI di Jakarta pada 11 April 2026. Dalam forum tersebut, Prabowo menyatakan tidak bersedia dicalonkan kembali karena tanggung jawabnya sebagai Presiden Republik Indonesia membutuhkan perhatian dan waktu yang besar.
Dalam sambutannya setelah pengukuhan, Sugiono menegaskan bahwa kepengurusan baru PB IPSI memiliki tanggung jawab besar untuk meneruskan perjuangan Prabowo dalam membangun pencak silat Indonesia.
“Kepengurusan ini melanjutkan tongkat estafet yang selama berdasawarsa dipegang, diampu, dibina dan dibimbing oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto.” ujar Sugiono dalam keterangannya pada (6/9/2026).
Menurut Sugiono, pencak silat bukan semata-mata cabang olahraga. Pencak silat merupakan bagian dari budaya, identitas, serta warisan bangsa Indonesia yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
Ia menegaskan, kepengurusan PB IPSI 2026–2030 akan berupaya mempertahankan prestasi yang telah diraih sekaligus memperkuat aspek pelestarian budaya pencak silat.
Sugiono juga mengaitkan pencak silat dengan pembangunan karakter bangsa. Ia mengutip penggalan lagu kebangsaan Indonesia Raya mengenai pentingnya membangun jiwa dan badan.
“Saya mengutip syair dari lagu Indonesia Raya, bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Menurut saya, tidak berlebihan jika saya sampaikan pencak silat adalah media untuk membangun jiwa, badan seluruh rakyat Indonesia untuk kejayaan Indonesia Raya.”
Ia menilai pencak silat memiliki posisi strategis karena dapat menjadi sarana membangun karakter, kesehatan, persaudaraan, sekaligus memperkuat persatuan masyarakat.
Salah satu agenda besar kepengurusan PB IPSI 2026–2030 adalah memperluas kiprah pencak silat di tingkat internasional dan memperjuangkan cabang olahraga tersebut agar dapat tampil di Olimpiade.
Target tersebut sejalan dengan tema Munas XVI IPSI 2026, yakni “Pencak Silat Mendunia Menuju Olimpiade.” Dalam Munas tersebut, Sugiono juga menegaskan pentingnya menjadikan pencak silat bagian dari pembangunan manusia Indonesia dan memperkuat posisinya di tingkat global.
Sugiono menyadari target tersebut tidak dapat dicapai hanya oleh PB IPSI. Karena itu, ia mengajak seluruh unsur pencak silat, mulai dari pengurus pusat dan daerah, perguruan, atlet, pelatih, hingga masyarakat untuk bekerja bersama.
“Kerja sama dari semua unsur, kerja sama dari semua pimpinan, kerja sama dari seluruh masyarakat pencak silat, sangat-sangat-sangat kita butuhkan.”
Menurutnya, pencak silat tidak hanya mengajarkan kemampuan bela diri dan prestasi olahraga, tetapi juga memiliki nilai persaudaraan dan persatuan.
“Pencak silat ini selain olahraga juga merupakan sarana membina persaudaraan dan persatuan. Oleh karena itu, kita wujudkan persaudaraan dan persatuan tersebut dalam struktur PB IPSI 2026–2030.”
Dalam struktur kepengurusan baru, Sugiono akan didampingi sejumlah tokoh untuk menjalankan roda organisasi PB IPSI periode 2026–2030. Salah satunya adalah politikus Partai Gerindra sekaligus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, yang dipercaya menjabat sebagai Ketua Harian PB IPSI.
Kehadiran sejumlah unsur dalam kepengurusan baru diharapkan dapat memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus memperluas pembinaan pencak silat di berbagai daerah.
Sugiono menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus yang bersedia mengambil bagian dalam kepengurusan baru tersebut. Ia menilai dedikasi dan kerja bersama menjadi faktor penting untuk meningkatkan prestasi sekaligus memperkenalkan pencak silat kepada masyarakat dunia.
“Bantuan, dukungan bapak-bapak sekalian merupakan sesuatu yang tidak terhingga yang bisa kami utarakan dalam rangka membesarkan olahraga dan budaya yang sama-sama kita cintai.”
Ia berharap amanah yang diberikan kepada kepengurusan PB IPSI 2026–2030 dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya.
“Semoga tanggung jawab yang besar, amanah yang besar ini bisa kita jalankan dan bisa kita tunaikan dengan baik, membawa pencak silat mendunia, membawa Indonesia semakin dikenal dan berkarisma di mata dunia.”
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir yang hadir dalam acara pelantikan memberikan dukungan terhadap kepengurusan baru PB IPSI.
Erick menekankan bahwa ambisi membawa pencak silat mendunia harus dimulai dengan memperkuat kualitas pembinaan di dalam negeri.
“Upaya membawa pencak silat mendunia harus diawali dengan peningkatan kualitas pembinaan di dalam negeri,” ujar Erick dalam acara pengukuhan dan pelantikan PB IPSI periode 2026–2030.
Menurutnya, peningkatan kualitas atlet, pembinaan berjenjang, serta penguatan ekosistem pencak silat menjadi bagian penting dalam mewujudkan target internasional tersebut.
Pelantikan dan pengukuhan PB IPSI periode 2026–2030 turut dihadiri sejumlah pejabat negara dan tokoh olahraga nasional.
Di antaranya Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Marciano Norman.
Selain itu, hadir pula jajaran pengurus provinsi IPSI dan perwakilan berbagai perguruan pencak silat dari sejumlah daerah di Indonesia.
Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan besarnya dukungan terhadap pengembangan pencak silat, baik sebagai cabang olahraga prestasi maupun sebagai warisan budaya bangsa.
Pergantian kepemimpinan PB IPSI tidak terlepas dari keputusan Prabowo Subianto untuk mengakhiri masa baktinya sebagai Ketua Umum.
Saat membuka Munas XVI IPSI di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, pada 11 April 2026, Prabowo secara terbuka menyatakan tidak akan melanjutkan kepemimpinannya di PB IPSI.
Prabowo menjelaskan, keputusan tersebut diambil karena tanggung jawabnya sebagai Presiden Republik Indonesia menyita waktu dan membutuhkan fokus penuh.
“Alhamdulillah hari ini saya menyatakan bahwa saya mohon izin untuk tidak melanjutkan sebagai Ketua Umum PB IPSI karena saya sudah mengemban tugas kebangsaan yang menyita waktu saya sehingga tidak mungkin saya efektif sebagai Ketua Umum PB IPSI.”
Prabowo juga menyatakan dirinya tidak bersedia kembali dicalonkan sebagai Ketua Umum PB IPSI.
Ia meyakini regenerasi kepemimpinan diperlukan agar organisasi dapat terus berkembang.
“Saya yakin sudah ada generasi penerus yang pantas untuk meneruskan tongkat kepemimpinan di IPSI dan pasti saya akan dukung PB IPSI ke depan.”
Prabowo memiliki perjalanan panjang bersama IPSI. Dalam sambutannya pada Munas XVI, ia menyebut telah mengabdi di lingkungan pencak silat selama sekitar 34 tahun, termasuk empat periode sebagai wakil ketua umum dan lima periode sebagai ketua umum.
Dengan resmi dilantiknya Sugiono, PB IPSI kini memasuki babak baru kepemimpinan untuk periode 2026–2030.
Tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan prestasi atlet Indonesia di berbagai kompetisi internasional, tetapi juga memperkuat pencak silat sebagai warisan budaya yang mampu diterima dan berkembang di tingkat global.
Bagi Sugiono, amanah tersebut merupakan kelanjutan dari perjuangan panjang yang telah dibangun oleh para pendahulu, khususnya Prabowo Subianto.
Dengan konsolidasi organisasi, penguatan pembinaan di dalam negeri, peningkatan prestasi atlet, serta diplomasi olahraga di tingkat internasional, PB IPSI menargetkan pencak silat semakin dikenal dunia dan pada akhirnya mampu mewujudkan cita-cita tampil di panggung Olimpiade.
Pergantian kepemimpinan ini sekaligus menjadi momentum bagi pencak silat Indonesia untuk tidak hanya mempertahankan identitasnya sebagai warisan budaya bangsa, tetapi juga menjadikannya kekuatan olahraga Indonesia di pentas dunia.
Ervinna