Jakarta, angkaranews. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kemandirian pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam melindungi rakyat sekaligus memperkuat kedaulatan bangsa di tengah ketidakpastian dan gejolak global.
Menurut Amran, ketahanan pangan tidak semata-mata berbicara mengenai peningkatan produksi pertanian, tetapi juga menyangkut keberpihakan negara terhadap petani, masyarakat berpenghasilan rendah, serta seluruh rakyat yang bergantung pada ketersediaan pangan yang terjangkau.
"Karena itu, pemerintah terus memperkuat swasembada pangan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan bangsa," kata Amran di Jakarta, pada (10/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Amran saat menjadi pembicara dalam Simposium Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) bertajuk "KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa, Menuju Indonesia Emas 2045" yang digelar di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Dalam kesempatan itu, Amran menekankan bahwa perjuangan mencapai swasembada pangan harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi besar pembangunan nasional.
Menurut dia, negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri memiliki fondasi yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal.
"Kita harus lindungi rakyat Indonesia. Kita harus lindungi petani. Kita lindungi orang miskin. Jangan kita pesta pora di atas penderitaan orang miskin," ujar Amran.
Amran mengatakan arah tersebut sejalan dengan visi pembangunan yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yakni membangun Indonesia yang semakin mandiri dan berdaulat dengan memperkuat sektor-sektor strategis.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan penting. Namun, dalam perjalanan waktu, berbagai kebijakan dan perubahan kondisi produksi menyebabkan sebagian kebutuhan pangan nasional kembali bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Karena itu, pemerintah saat ini berupaya mengembalikan dan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri. Upaya tersebut dilakukan tidak hanya melalui peningkatan produktivitas, tetapi juga dengan memastikan petani memperoleh dukungan dan perlindungan yang memadai.
Bagi Amran, petani merupakan salah satu aktor utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Karena itu, peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani.
"Kalau kita ingin pangan kita berdaulat, petaninya harus sejahtera. Negara harus hadir dan memberikan perlindungan kepada mereka," tegasnya.
Menurutnya, keberpihakan kepada petani menjadi penting karena berbagai gejolak global dapat memberikan dampak langsung terhadap sektor pangan, mulai dari perubahan harga komoditas, gangguan rantai pasok, perubahan iklim, hingga dinamika perdagangan internasional.
Dalam pemaparannya, Amran juga mengenang masa mudanya yang diwarnai keterbatasan ekonomi. Pengalaman tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan dirinya terus mendorong kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil.
"Saya tahu rasanya hidup dalam kesulitan. Karena itu saya ingin memastikan kebijakan yang kita jalankan berpihak kepada rakyat, terutama petani dan masyarakat kecil," ungkapnya.
Ia menegaskan, agenda swasembada pangan yang tengah digenjot pemerintah bukan sekadar program sektoral Kementerian Pertanian, melainkan bagian dari strategi besar untuk memperkuat ketahanan nasional.
Pangan, lanjut Amran, memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap pasokan dari luar negeri dapat membuat suatu negara lebih rentan terhadap perubahan kondisi global.
Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi berbagai komoditas strategis agar kebutuhan domestik dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Amran mengatakan target yang ingin dicapai tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan nasional. Dalam jangka panjang, Indonesia diharapkan mampu memperkuat kapasitas produksi hingga memiliki surplus yang dapat mendukung peningkatan ekspor.
Amran juga menjelaskan visi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun sistem pangan nasional yang semakin mandiri dan efisien.
Salah satu gagasan yang didorong adalah memperkuat kemampuan setiap wilayah dan pulau dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Dengan demikian, ketergantungan terhadap distribusi pangan jarak jauh dapat dikurangi dan efisiensi rantai pasok dapat ditingkatkan.
"Mimpi Bapak Presiden pangan kita mandiri setiap pulau," tutur Amran.
Menurut dia, kemandirian pangan di berbagai wilayah juga memiliki implikasi terhadap stabilitas harga. Produksi yang lebih dekat dengan pusat konsumsi diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi dan membantu menekan biaya logistik.
Pada saat yang sama, peningkatan produksi pangan nasional diharapkan turut menjaga stabilitas inflasi serta memastikan masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang wajar.
Selain sektor pangan, Amran menyebut pemerintah juga tengah mendorong kemandirian energi sebagai bagian dari agenda memperkuat ketahanan nasional.
Salah satu program yang disorot adalah pengembangan biodiesel B50, yang memanfaatkan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel untuk menggantikan sebagian penggunaan solar.
"B50 apa itu? CPO (minyak sawit mentah) dijadikan solar. Itu 5 juta ton. Sejak merdeka kita impor (solar). Bulan Juli kemarin kita stop impor," kata Amran.
Menurutnya, pengembangan biodiesel tidak hanya berkaitan dengan sektor energi, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan sektor pertanian karena menciptakan permintaan terhadap komoditas sawit serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dari luar negeri.
Dengan memperkuat pangan dan energi secara bersamaan, pemerintah dinilai memiliki fondasi yang lebih kokoh dalam menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik global.
Dalam forum tersebut, Amran juga menyampaikan komitmennya untuk menjaga integritas selama menjalankan amanah sebagai Menteri Pertanian.
Ia mempersilakan berbagai pihak untuk mengkritik dan mengevaluasi kinerjanya. Menurutnya, kritik diperlukan untuk menemukan kekurangan dan memperbaiki kebijakan pemerintah.
Namun, Amran menegaskan bahwa dirinya tidak akan memberikan toleransi terhadap praktik korupsi.
"Cari kelemahan saya, cari kekurangan saya karena saya orang tidak sempurna. Tapi kalau ada korupsi saya lakukan hari ini juga saya mundur dan proses saya," tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa penguatan sektor pertanian harus dibarengi dengan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Amran berharap seluruh elemen bangsa, termasuk keluarga besar KAHMI, dapat mengambil bagian dalam mendukung agenda strategis nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, kemandirian pangan, energi, dan ekonomi merupakan tiga pilar penting yang harus terus diperkuat agar Indonesia tidak mudah terguncang oleh perubahan global.
"Kalau pangan kita kuat, energi kita kuat, ekonomi kita kuat, maka bangsa kita akan semakin berdaulat," pungkas Amran.
Ervinna